Jatuh Bangun Festival Film Indonesia

Jatuh Bangun Festival Film Indonesia

Hasil karya seni merupakan salah satu hal yang patut untuk diapresiasi. Hal ini bertujuan untuk menghargai usaha dan kerja keras dari berbagai pihak dan kalangan untuk menciptakan suatu karya seni yang ada didunia ini. Pada dasarnya, karya seni memiliki banyak jenis, macam, maupun kategori yang berbeda-beda. Salah satunya adalah dalam bidang perfilman. Film merupakan salah satu karya yang sangat pantas untuk mendapatkan apresiasi dan penghargaan.

Selain itu, menggarap suatu film bukanlah suatu hal yang mudah. Itulah mengapa seseorang ataupun kelompok orang yang telah berhasil membuat suatu karya film, pantas untuk diakui, diapresiasi, dan dihargai. Cara menghargai karya seni film tersebut berbeda-beda, ada berbagai macam caranya. Salah satunya adalah dengan memberikan award kepada film maupun orang-orang yang bekerja dibalik layarnya atas usaha mereka.

Salah satu ajang penghargaan untuk perfilman di Indonesia adalah Festival Film Indonesia. Dalam sejarahnya, ada dua piala yang diberikan pada Festival Film Indonesia. Kedua piala tersebut adalah Piala Citra dan Piala Vidia. Piala Vidia diperuntukkan untuk film-film yang tayang di televisi.

Festival Film Indonesia pertama kali digelar pada tahun ke sepuluh Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1955. Lebih tepatnya lagi pada tanggal 30 Maret hingga 5 April 1955. Namun, setelah penyelenggaraan pertama tersebut, Festival Film Indonesia tidak rutin diadakan. Ajang ini masih jatuh bangun bahkan cenderung terseok-seok. Penyelenggaraan pemberian penghargaan untuk dunia perfilman Indonesia ini bertujuan untuk membangkitkan film Indonesia pada masa itu. Hal ini dikarenakan pada waktu itu, tahun 1955, kondisi perfilman Indonesia sangat buruk.

Baca juga : INDONESIAN CHOICE AWARDS

Indonesia didominasi oleh film negara tetangga

Indonesia didominasi oleh film dari negara tetangga, yakni Malaysia dan film-film India yang sangat digemari oleh masyarakat menengah kebawah. Lalu, untuk tayangan bioskopnya, dimonopoli oleh film-film yang berasal dari Amerika Serikat. Memburuknya dunia perfilman Indonesia kala itu membuat dua orang delegasi Indonesia yang menghadiri acara pembentukan Persatuan Produser Film Asia di Manila, Filipina memiliki semangat untuk membangkitkan kembali dunia film Indonesia.

Selain untuk menggali potensi bangsa sendiri, hal ini juga merupakan kebutuhan untuk mengirimkan delegasi Indonesia pada ajang FPA di kancah Asia. Kedua orang yang berjasa tersebut adalah Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik.

Namun, usaha tersebut juga bukanlah suatu usaha yang mudah. Terbukti pada tahun-tahun selanjutnya, Festival Film Indonesia sempat vakum dan terhenti. Lalu, Festival Film Indonesia ini diadakan lagi pada tahun 2004. Lahirnya kembali Festival Film Indonesia ternyata belum juga memiliki kisah yang sempurna. Hal ini dikarenakan pada Festival Film Indonesia tahun 2004 sempat diwarnai kontroversi dan protes dari sana-sini. Sebuah film yang memenangi piala Citra dan mendapatkan gelar sebagai film terbaik pada tahun tersebut, disinyalir memiliki banyak unsur plagiat didalamnya.

Karena menuai protes dari berbagai pihak, penghargaan tersebut pun dicabut dengan dikeluarkannya sebuah Surat Keputusan Resmi. Selain penghargaan film tersebut dicabut, sang sutradara yang juga mendapatkan piala pada Festival Film Indonesia 2004 lalu juga dicabut penghargaannya dan ditarik kembali piala yang telah dipegangnya. Kejadian ini tentu saja menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh pihak-pihak yang berperan pada Festival Film Indonesia selanjutnya. Terlebih lagi pada bidang penjuriannya. Sistem penjurian pun dievaluasi ulang dan dirombak kembali. Setelah itu, Festival Film Indonesia kembali membagikan piala Citranya kepada aktor, aktris, sutradara, hingga berbagai judul film yang dirasa telah menghasilkan suatu film yang mengagumkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *